WEB BLOG
this site the web

Recent Photos

image
image
image

JURNAL TERUMBU KARANG

 2003 Wazir Mawardi Posted: 3 January 2003
Makalah Falsafah Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
December 2002
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
Prof Dr Ir Zahrial Coto
Dr Bambang Purwantara
EKOSISTEM TERUMBU KARANG PERANAN,
KONDISI DAN KONSERVASINYA
Oleh :
WAZIR MAWARDI
PS. TKL C.561020021
e-mail : zir_diver@yahoo.com
Pendahuluan
Terumbu karang merupakan ekosistem perairan dangkal yang banyak
dijumpai di sepanjang garis patai daerah tropis. Keberadaannya dibatasi oleh
parameter suhu, salinitas, intensitas cahaya matahari dan kecerahan suatu
perairan.
Kawasan terumbu karang Indonesia memiliki potensi sumberdaya yang
sangat besar dilihat dari produktifitas, keanekaragaman biota dan estetikanya.
Sumberdaya ini dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat
dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya dan kelestariannya. Upaya
pemanfaatan yang optimal perlu dilakukan agar dapat menunjang pembangunan
secara berkelanjutan, dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan
negara.
Kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini terancam rusak dan sebagian
besar bahkan sudah rusak karena opersi penangkapan ikan yang tidak
berwawasan lingkungan, pemanenan yang berlebihan, Limbah cair, sampah,
pengendapan lumpur dari sungai, budidaya pertanian, pertambangan dan polusi
industri, aktivitas tourism,konstruksi pantai dan pemanasan global.
Dewasa ini dalam kegiatan yang disebut sebagai perbaikan ekosistem
terumbu karang, banyak dilakukan dengan cara transplantasi terumbu karang
dan pembuatan terumbu buatan (artificial reef) yang oleh masyarakat awam lebih
dikenal sebagai “rumpon”.
Tujuan Penulisan
Tujuan tulisan ini adlah memberikan pengertian tentang arti penting terumbu
karang dan cara konservasinya.
PENGERTIAN
Terumbu karang adalah endapan-endapan masif penting kalsium karbonat
yang terutama dihasilkan oleh karang Scleractinia dengan sedikit tambahan alga
berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat
(Nybakken,1992). Karang sclerectinia termasuk kedalam filum Cnidaria. Karang
ini menerima sumber energi dan nutrien dengan cara menangkap larva
planktonik dengan menggunakan tentakelnya atau dengan memanfaatkan
simbion yang hidup di dalam jaringan tubuhnya yaitu zooxantelae.
Lerman (1986) menyebutkan bahwa terumbu karang terdiri dari organisme
yang hidup pada batuan kapur yang dihasilkan oleh beberapa organisme
anggota komunitas tersebut, hal ini dianggap sebagai suatu keunikan terumbu
karang.
• Klasifikasi
Karang keras merupakan istilah untuk kelompok karang yang memiliki
kerangka luar (eksoskeleton). Karang keras berdasarkan skeleton(kerangka
karang) menurut Veron (1986) diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum: Cnidaria
Kelas : Anthozoa
Subkelas; Hexacorallia
Ordo: Sclerectinia
Coenothecalia
Kelas : Hydrozoa
Ordo ; Milleoporina
Styllasterina
Karang lunak atau Alcyonaria merupakan jenis coelenterata yang tidak
kalah penting peranannya dalam pembentukan terumbu karang. Jika ditinjau dari
jumlah jenis dan ukuran koloninya menempati urutan kedua setelah karang
keras.

• Biologi Karang
Menurut Suharsono (1996) karang termasuk binatang yang mempunyai
sengat atau lebih dikenal sebagai cnida (cnida=jelata) yang dapat menghasilkan
kerangka kapur didalam jaringan tubuhnya. Karang hidup berkoloni atau sendiri,
tetapi hampir semua karang hermatipik hidup berkoloni dengan berbagai individu
hewan karang atau polyp (Nybakken, 1992)
Terbentuknya terumbu karang merupakan proses yang lama dan
kompleks. Proses diawali dengan terbentuknya endapan masif kalsium karbonat
yang terutama dihasilkan oleh oleh hewan karang dari filum Cnidaria, kelas
anthozoa, ordo Sclerectinia dengan sedikit tambahan alga berkapur dan
organisme lain yang juga menghasilkan kalsium karbonat yang disebut terumbu
(Nybakken, 1992). Binatang karang memperoleh nutrien utama dari alga yang
bersimbiosis di dalamnya (endosimbiotic algae) yaitu algae dari genus
Gymnodium yang dikenal dengan sebutan zooxanthellae. Algae ini hidup di
dalam polip karang dan membutuhkan cahaya matahari untuk
berfotosintesis.(Suharsono,1996).
Zooxanthellae memegang peranan penting dalam menjaga dan mendaur
ulang nutrien yang dihasilkan sebagai sisa metabolisme karang. Selama proses
fotosintesis oleh zooxanthellae, karang hermatipik mensekresikan dan
mendepositkan karang dua sampai tiga kali lebih cepat pada daerah terang dari
pada daerah gelap (Veron,1986).
Karang lunak dalam ekosistem terumbu karang menempai urutan kedua
setelah karang keras. Peranannya selain sebagai salah satu hewan penyusun
ekosistem terumbu karang, juga sebagai pemasok senyawa karbonat yang
berguna bagi pembentukan terumbu. (Konishi in Manuputty,1990). Tubuh
Alcyonaria lunak, tetapi disokong oleh sejumlah besar duri-duri berukuran kecil,
kokoh, dan tersusun sedemikian rupa hingga tubuh Alcyonaria lentur dan tidak
mudah putus. Duri-duri ini mengandung kalsium karbonat dan disebut spikula.
Sepintas hewan ini tampak seperti tumbuhan karena bentuk koloninya yang
bercabang-cabangseperti pohon dan dan melekat pada substrat yang lunak.
Karang lunak dapat melumpuhkan hewan-hewan disekitarnya yang
terutama karang keras dalam berkompetisi mempertahankan ruang lingkupnya.
Mekanisme mematikan dilakukan dengan cara mengeluarkan zat beracun yang
terdiri dari senyawa terpen. Belakangan senyawa ini dapat digunakan dalam
bidang farmasi sebagai antibiotik, anti jamur, dan senyawa anti tumor, sedang
bagi karang lunak itu sendiri sebagi penangkal serangan predator, dan berperan
dalam proses reproduksi (Coll dan Sammarco in Mannuputty,1986).

• Reproduksi Karang
Reproduksi hewan karang dapat terjadi secara seksual maupun non seksual
Proses reproduksi seksual dimulai dengan pembentukan klon gamet sampai
terbentuknya gamet masak, proses ini disebut sebagai gametogenesis. Gamet
yang masak kemudian akan dilepaskan dalam bentuk planula. Planula yang
telah lepas akan berenang bebas dalam perairan. Dan bila mendapati tempat
yang cocok, ia akan menetap di dasar/substrat dan berkembang menjadi koloni
baru. Karang dalam melakukan pembuahan ada yang diluar tubuh induknya
(pembuahan eksternal) dan ada yang didalam tubuh induknya (pembuahan
internal (Nybakken, 1992).
Reproduksi Aseksual karang dilakukan dengan cara membentuk tunas.
Tunas ini biasanya akan tumbuh di permukaan bagian bawah atau pada bagian
pinggir koloni karang. Tunas baru akan tetap melekat hingga ukuran tertentu
sampai dapat melepaskan diri dan menjadi individu baru. Pembentukan tunas ini
dapat terjadi dapat dilakukan dengan cara pertunasan intretentakular, yaitu
pembentukan individu baru dalam didalam individu lama, sedangkan pertunasan
ekstrakurikuler merupakan pembentukan individu baru diluar individu lama
(Suharsono, 1987)
Reproduksi karang lunak dapat secara seksual maupun aseksual.
Reproduksi seksual karang lunak dilakukan dengan cara kawin. Seabagian
besar karang lunak bersifat dioceous diman kelamin jantan dan betina letaknya
terpisah. Sel-sel kelamin berasal dari lapisan endodermis, terdapat dirongga
gastrovaskulaer berupa gelembung-gelembung kecil bertangkai dan melekat
pada septa. Alat kelamin terdapat pada septa sulkal yang berjumlah 6 buah,
sedang dua septa lainnya steril. Telur yang telah matang melekat pada septa
dan dilapisi gastrodermis yang tipis. Fertilisasi dapat terjadi secara internal
ataupun eksternal. (Manuputty,1986)
Reproduksi aseksual pada karang lunak dapat dilakukan dengan dengan
membentuk tunas. Polip karang lunak berhubungan satu sama lainnya melalui
saluran yang disebut jarring-jaring solenia yang terdapat dibagian basal
tubuhnya. Polip baru muncul dalam jaringan solenia ini sebagi polip sekunder
yang bentuk dan ukurannya berbeda dengan polip primer.

Fungsi Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai penting bukan hanya dari sisi
biologi, kimia dan fungsi fisik saja namun juga dari sisi sosial dan ekonomi.
• Fungsi biologis terumbu karang, adalah sebagai tempat bersarang, mencari
makan, memijah dan tempat pembesaran bagi berbagai biota laut.
• Fungsi kimia terumbu adalah sebagai pendaur ulang unsur hara yang paling
efektif dan efisien. Terumbu karang juga potensial sebagai sumber nutfah
bahan obat-obatan
• Fungsi fisik terumbu adalah sebagai pelindung daerah pantai, utamanya dari
proses abrasi akibat adanya hantaman gelombang.
• Berdasarkan fungsi sosialnya terumbu merupakan sumber mata pencaharian
bagi nelayan, dan juga memberikan kesenangan sebagai obyek ekotourism.
Faktor-Faktor Pembatas Hidup Terumbu Karang.
Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor, diantaranya
adalah suhu, salinitas, cahaya, arus dan substrat.
• Suhu
Sacara geografis, suhu membatasi sebaran karang. Suhu optimum untuk
terumbu adalah 250C - 300 C(Soekarno et al, 1983). Suhu mempengaruhi
tingkah laku makan karang. Kebanyakan karang akan kehilangan kemampuan
untuk menangkap makanan pada suhu diatas 33,5 0C dan dibawah 16 0C
(Mayor, 1918 in Supriyono,2000) .Pengaruh suhu terhadap karang tidak saja
yang ekstrim maksimum dan minimum saja, namun perubahan mendadak dari
suhu alami sekitar 4 0C – 6 0C dibawah atau diatas ambient dapat mengurangi
pertumbuhan karang bahkan mematikannya.
• Salinitas
Salinitas merupakan faktor pembatas kehidupan karang. Daya setiap jenis
karang berbeda-beda tergantung pada kondisi laut setempat. Karang hermatipik
adalah organisme laut sejati yang sangat sensitif terhadap perubahan salinitas
yang jelas menyimpang terhadap salinitas air laut, yaitu 320/oo - 350/oo. Binatang
karang hidup subur pada salinitas air laut 340/oo - 360/oo. Karang yang hidup dilaut
dalam jarang atau hampir tidak pernah mengalami perubahan salinitas yang
cukup besar sedang yang hidup ditempat-tempat dangkal sering kali dipengaruhi
oleh oleh masukan air tawar dari pantai maupun hujan sehingga terjadi
penurunan salinitas perairan.
• Cahaya
Cahaya diperlukan oleh alga simbiotik zooxanthellae dalam proses
fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen biota terumbu karang
(Nybakken,1992). Tanpa cahaya yang cukup, laju foto sintesis akan berkurang
dan kemampuan karang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu
akan berkurang pula.
Kedalaman penetrasi cahaya matahari mempengaruhi pertumbuhan
karang hermatipik, sehingga dapat mempengaruhi penyebarannya
(Sukarno,1977 in jimmi, 1991). Jumlah spesies berkurang secara nyata pada
kedalaman penetrasi cahaya sebesar 15-20% dari penetrasi cahaya permukaan
yang secara cepat menurun mulai dari kedalaman 10 m. Stoddart in Endean,
1976 in D’elia et al.,1991)
• Sedimentasi;.
Pengaruh sedimentasi terhadap hewan karang dapat terjadi secara
langsung maupun tidak langsung. Sedimen akan mematikanlangsung karang
bila ukuran sedimen cukup besar atau banyak sehingga menutup polip karang.
Pengaruh tidak langsung adalah menurunnya penetrasi cahaya matahri yang
penting untuk proses fotosintesis zooxanthellae. Selain itu banyaknya energi
yang dikeluarkan oleh binatang karang tersebut untuk menghalau sedimen
mengakibatkan turunnya laju pertumbuhan karang.
• Arus dan Gelombang.
Pertumbuhan karang didaerah berarus alebih baik bila dibandingkan
dengan perairan yang tenang (Nontji, 1987). Umumnya terumbu karang lebih
berkembang pada daerah yang bergelombang besar. Selain memberikan
pasokan oksigen bagi karang, gelombang juga memberi plankton yang baru
untuk koloni karang. Selain itu gelombang sangat membantu dalam menghalangi
pengendapan pada koloni karang. Sebaliknya, gelombang yang sangat kuat,
seperti halnya gelombang tsunami, dapat menghancurkan karang secara fisik.
Kerusakan Terumbu Karang.
Menurut Dahuri et'al (1996) secara umum kerusakan terumbu karang dapat
disebabkan oleh dua hal yaitu (1) aktifitas manusia, dan (2) Faktor Alami.
1). Kerusakan ekosistem terumbu karang yang diakibatkan aktifitas manusia
adalah:
• Siltasi dan sedimentasi yang diakibatkan pengerukan, reklamasi, erosi
dari sungai dan kegiatan pembangunan konstruksi.
• Penurunan kualitas air akibat perubahan salinitas dan suhu, pencemaran
seperti tumpahan minyak, limbah industri dan limbah domestik.
• Pemasukan air tawar yang sangat besar sebagai akibat pemindahan
aliran sungai, dan pembuangan limbah cair dan banjir.
• Penangkapan ikan yang bersifat merusak seperti penggunaan bahan
peledak, racun dan alat tangkap yang non selektif seperti trawl dan
muroami.
• Eksploitasi yang berlebihan terhadap suatu jenis karang yang digunakan
untuk hiasan dan cindera mata, atau bahkan sebagai material bangunan.
• Pengambilan karang yang khas untuk hiasan pada akuarium.
• Kerusakan karang akibat penurunan jangkar kapal wisata yang
sembarangan atau terijak-injak oleh wisatawa yan berkunjung kedaerah
terumbu karang, termasuk kegiatan selam yang tidak bertanggung jawab.
2). Kerusakan yang disebabkan oleh faktor alami misalnya adalah kenaikan
suhu dan badai. Kenaikan suhu 4-6 0C karena pengaruh elnino pada tahun
1982-1983 disinyalir telah merusak terumbu karang dihabitatnya. Di
Indonesia suhu air laut mencapai lebih dari 30 0C. Karang-karang
dikepulauan seribu banyak yang mengalami bleaching dan diikuti
kematiannya.
Badai (storm dan hurricane) cukup berbahaya terhadap kehidupan terumbu
karang. Badai ini dapat merusak dan memporakporandakan baik didaerah
reef flat, reef edge maupun reef slope.. Selain kenaikan suhu dan badai
predator karang juga dikenal sebagai perusak terumbu karang. Acanthaster
planci merupakan predator karang yang terkenal sebagai perusak karang
terutama di daerah Indo-Pasifik.
Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga
90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah
lingkungan. Menurut Dr Jan Henning Steffen, luas total terumbu karang
Indonesia mencapai 85200 Km persegi, terluas ke dua di dunia setelah Great
Barrier Reef. Kondisi terumbu karang Indonesia tercatat 40 persen diantaranya
berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen dan sangat baik hanya
enam persen. (http://www.dkp.go.id/)
Ia menambahkan, menurut data CITES, Indonesia merupakan eksportir
karang hidup terbesar di dunia, tercatat 200 ribu buah selama tahun 1992 dan
800 ribu buah selama tahun 1999. Sumbangan produksi terumbu karang
Indonesia di sektor perikanan tercatat 2,7 miliar dolar AS per tahun dan sektor
pariwisata sebesar 600 juta dolar AS per tahun.
Perbaikan Ekosistem Terumbu Buatan
Mengantisifasi kerusakan karang yang sudah sedemikian serius tersebut
banyak daya dan upaya yang telah dilakukan baik oleh lembaga pemerintah
maupun non pemerintah. Pembelajaran akan pentingnya kehidupan terumbu
karang gencar dilakukan baik kepada masyarakat umum maupun kepada
kalangan generasi muda dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Slogan ‘cinta bahari’, ‘Cinta makan ikan’, ‘Selamatkan Terumbu Karang’ ramai
dipromosikan bahkan sampai tingkat nasional. Kelestarian Terumbu karang tidak
hanya semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah atau masyarakat
pesisir saja. Secara tidak langsung masyarakat yang tinggal di darat pedalaman
sekalipun ikut bertanggung jawab apabila aktivitas mereka didaerah aliran hulu
sungai mengakibatkan erosi tanah dan pencemaran lingkungan air sungai yang
pada akhirnya bermuara dilaut dimana terdapat ekosistem terumbu karang. Air
sungai yang tercemar ini dapat menyebabkan karang sakit, bahkan mati.
Tindakan nyata untuk memperbaiki ekosistem terumbu karangpun marak
dilaksanakan lembaga pemerintah, Swasta maupun Lembaga Swadaya
Masyarakat. Kegiatan nyata yang cukup popular belakangan ini dilakukan adalah
dalam bentuk pemasangan terumbu buatan (artificial reef) yang diprakarsai oleh
Departemen Kelautan Perikanan. Terumbu buatan oleh masyarakat umum lebih
dikenal sebagai “rumpon”. Selain itu teknik Fragmentasi atau Transplantasi pun
sudah mulai diperkenalkan untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang yang
rusak.
• Terumbu Buatan (Artificial reef)
Pengertianterumbu buatan adalah bentuk bangunan atau benda yang di
turunkan kedasar perairan sehingga menyerupai atau berfungsi layaknya habitat
ikan. Banyak bentuk konstruksi dan jenis material yang diaplikasikan pada
terumbu buatan, dari balok kayu biasa, papan, besi concret semen, besi dan
kapal, bus bekas dan bahkan ban bekas. Pada Gambar 1 ditampilkan dua
contoh konstruksi terumbu buatan dari semen concret
Gambar 1. Bentuk terumbu buatan dari block semen; bentuk Turtle Block
(atas) dan bentuk Kubus (bawah)
Sejauh ini, bila dilihat lokasi dan kedalaman pemasangan terumbu buatan
yang sering dilakukan adalah pada kedalaman lebih dari 20 m, maka sasaran
sebenarnya lebih banyak ditujukan untuk menciptakan “sarang ikan buatan”
(Artificial Habitat) yang target utamanya adalah mengundang lebih banyak ikan
ke lokasi tersebut.
Sementara sasaran lain pembuatan buatan sebagai sarana konservasi
ekosistem terumbu yang telah rusak tidak tercapai, oleh karena Kedalaman
pemasangan terumbu buatan yang terlalu dalam sehingga penetrasi cahaya
sangat minim. Cahaya yang minim merupakan salah satu faktor pembatas utama
bagi pertumbuhan hewan karang. Disamping itu fungsi terumbu buatan sebagai
penahan gelombang juga tidak terjadi.
Perencanaan, pembuatan, penentuan lokasi sampai dengan cara
pemasangan terumbu buatan yang tidak dilakukan dengan baik akan sangat
diragukan keberhasilannya dalam memperbaiki ekosistem setempat. Sejauh ini
sedikit sekali pemasangan yang telah banyak dilakukan diketahui apakah telah
mencapai sasaran yang diharapkan atau belum, karena kegiatan pemasangan
terumbu buatan jarang diikuti kegiatan monitoring.
• Fragmentasi/Transplantasi Terumbu Karang.
Fragmentasi/taransplantasi terumbu karang diharapkan akan menjadi solusi
yang tepat dan cepat dalam mendukung keberhasilan program rehabilitasi
ekosistem terumbu karang. Yang dimaksudkan dengan fragmentasi atau
transplantasi adalah mengambil sebagian koloni karang dari koloni primer dan
kemudian di ‘letakkan’ di tempat tertentu.
Penelitian tentang framentasi atau transplantasi karang dari berbagai jenis
karang, sejatinya sudah banyak dilakukan. Misalnya, Bak dan Criens, pada 1981
melakukan penelitian terhadap tingkat keberhasilan hidup karang fragmentasi
jenis Madracismirabllis dan jenis Acropora sp (Scleractinia) terhadap penyakit.
Pada 1995, Clark dan Edward juga melakukan penelitian yang bertujuan
merehabilitasi kerusakan karang di kepulauan Maldive. (http://www.dkp.go.id/).
Keberhasilan penerapan transplantasi terumbu buatan tentunya memerlukan
pengetahuan dan kajian yang lebih baik, terutama bila kita telah ketahui bahwa
cukup banyak faktor pembatas alami bagi pertumbuhan terumbu karang.
Sehingga kita harus benar-benar memperhatikan faktor-faktor dalam
menetapkan dimana transplantasi ini akan dipasang. Selain itu harus
diperhatikan juga konstruksi dan media transplantasi serta jenis karang yang
akan ditransplantasikan.
Gambar 2. Bentuk media dan fragment terumbu karang dalam
keadaan terpasng dan siap dipasang diperairan
Perencanaan perbaikan terumbu karang.
Perencanaan tentunya dimulai dari menentukan atau menetapkan
kegunaan/tujuan dan siapa pengguna atau yang memanfaatkan terumbu buatan
atau hasil translantasi terumbu tersebut. Keberadaan terumbu buatan dapat
dijadikan sebagai objek wisata selam, tempat nelayan mencari ikan atau murni
sebagai daerah konservasi saja.
Setelah tahap penetapan tersebut diatas maka selanjutnya adalah
mengidentifikasi lokasi yang memungkinkan untuk pemasangan terumbu buatan
atau transplantasi dimaksud berdasarkan kegunaan karang buatan nantinya,
terumbu buatan untuk wisata dan untuk daerah penagkapan ikan tentunya akan
sangat berpengaruh dengan lokasi, kedalaman jarak dari pantai dan sebagainya.
Lanjutan dari tahap tersebut diatas adalah ditentukan bentuk konstruksi dan
material bent. Pada tahap ini tentunya dipertimbangkan material yang mudah
didapat dan tentunya tahan lama, ukuran kapal yang dapat digunakan atau ada
didaerah setempat untuk pemasangan terumbu dan lain sebagainya.
Tahap berikutnya adalah menyebarkan (memasang) terumbu buatan sesuai
dengan lokasi yang elah ditetapkan sebelumnya,
Tentunya setelah kegiatan pemasangan terumbu buatan harus ada kegiatan
monitoring. Kegiatan monitoring pasca pemasangan terumbu buatan adalah hal
penting yang tidak seharusnya ditinggalkan atau dilupakan.. Tidak adanya
monitoring menyebabkan masih miskinnya informasi sampai saat ini seperti
misalnya; apakan pemasangan terumbu buatan sudah tepat guna atau belum?,
Konstruksi mana selama ini yang paling baik dan berhasil? Apakah ada indikasi
konstruksi terumbu tertentu akan menyebabkan ikan/biota yang berasosiasi
berbeda pula? Apakah keberadaan terumbu buatan memberikan impak kepad
masyarakat sekitar baik secara sosial maupun ekonominya?
Metode monitoring dapat dilakukan langsung dengan metode visual sensus
dengan penyelaman SCUBA. Selain itu juga dapat dilakukan wawancara dengan
masyarakat setempat. Bila pada terumbu buatan dilihat biota apa saja yang
bersimbiose pada habitat buatan tersebut yang mencakup jenis, jumlah dan
ukuran. Pada transplantasi terumbu diutamakan pengamatan pada pertumbuhan
panjang, perambatan pada substrat dan batang pengikat karang, dan
pertambahan jumlah tunas. Selain itu, monitoring juga bertujuan untuk
mengetahui bentuk percabangan yang lebih cepat pertumbuhan dan lokasi yang
terbaik bagi pertumbuhan karang.
PENUTUP
Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai penting bukan hanya dari sisi
biologi, kimia dan fungsi fisik saja namun juga dari sisi sosial dan ekonomi.
Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
suhu, salinitas, cahaya, arus dan substrat. Menurut Dahuri et.al. (1996) secara
umum kerusakan terumbu karang dapat disebabkan oleh dua hal yaitu (1)
aktifitas manusia, dan (2) Faktor Alami. Upaya perbaikan ekosistem terumbu
karng diantaranya telah dilakukan dengan pemasangan terumbu buatan (artificial
reef) dan teknik Fragmentasi atau Transplantasi yang baru diperkenalkan.
Kegiatan pemasangan terumbu buatan jarang didahului dengan pengkajian
dan perencanaan yang matang, terutama secara ekologis. Selain itu kegiatan ini
jarang atau bahkan tidak diikuti kegiatan monitoring, sehingga informasi lanjutan
dari aplikasi terumbu buatan maupun transplantasi masih sangat jarang sekali,
begitu pula tentang tingkat keberhasilannya masih belum diketahui secara pasti.
BAHAN BACAAN
(http://www.dkp.go.id/) Dikunjungi 15 Desember 2002
Manuputty, a.e.n. 1986. Marine Biologiy, Environment, Diversity and Ecology.
Benjamin/Cumings Publishing Co.
Nybakken,J,W. 1992. Biologi Laut satu Pendekatan Ekologis. (Terjemahan. Alih
bahasa oleh H.M Eidman). PT. Gramedia.Jakarta )
Soekarno, Aziz, Darsono, Moosa, Hutomo, Martosewojo dan Romimohtarto
1983. Terumbu karang di Indonesia: Sumberdaya, Permasalahan, dan
Pengelolaannya. Proyek Studi Potensi Sumberdaya Alam Indonesia. Studi
Potensi sumberdaya hayati Ikan. LON-LIPI. Jakrta
Suharsono, 1987, Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di Perairan Indonesia.
LIPI. Jakarta
Supriyono,2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan.
Jakarta.
Nontji,A 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta

Terumbu Karang

Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimentasi kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.

Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.

Dalam banyak publikasi internasional 'terumbu karang' sering juga disebut secara singkat dengan 'terumbu' saja karena keduanya sama artinya, misalnya 'ikan terumbu karang' disebut sebagai 'ikan terumbu'. Di Indonesia, sebagian penulis menggunakan istilah 'ikan karang' yang salah kaprah. Jenis-jenis koral meliputi Acropora spp, Porites spp., Favia spp. dan lain-lain. Jenis-jenis terumbu atau terumbu karang meliputi atoll, terumbu penghalang, dan terumbu tepi.

Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya,karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Baik buruknya kondisi suatu ekossistem terumbu karang dilihat dari komunitas karangnya. Kehadiran karang di terumbu akan diikuti oleh kahadiran ratusan biota lainnya (ikan, invertebrata, algae), sebaliknya hilangnya karang akan diikuti oleh perginya ratusan biota penghuni terumbu karang. Disamping menghasilkan sedimen kapur pembentuk terumbu, karang juga meningkatkan kompleksitas dan produktivitas ekosistem. Karang kadangkala disebut juga sebagai karang batu (karang yang keras seperti batu) atau karang terumbu (karang yang menghasilkan kapur pembentuk terumbu). Hal ini untuk membedakannya dengan karang lunak. Jika istilah karang digunakan secara sendiri maka itu mengacu pada karang batu atau karang terumbu, bukan karang lunak. Karang mendapatkan makanan sebagian besar (>70%)dari algae zooxanthellae yang terdapat di dalam tubuhnya sedangkan sisanya ia dapat memakan plankton atau bahkan sedimen.

Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia (Walters, 1994 dalam Suharsono, 1998).

Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang Dunia (Cesar 1997) dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Menurut Cesar (1997) estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah pemanfaatan sumber daya ikan, batu karang, pariwisata, penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya. Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah seperti fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Biologi Karang

Pada ekosistem terumbu karang, karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan yang menyediakan banyak habitat bagi ribuan penghuni ekosistem terumbu karang yang lainnya, misalnya ikan, algae, dan invertebrata. Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel. Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni (Sorokin, 1993). Berdasarkan kepada kemampuan memproduksi kapur maka karang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu karang hermatipik dan karang ahermatipik. Karang hermatifik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan didaerah Tropis. Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas diseluruh dunia. Perbedaan utama karang Hermatipik dan karang ahermatipik adalah adanya Simbiosis mutualisme antara karang hermatipik dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae Uniselular (Dinoflagellata unisular), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan Fotosintesis. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang. Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat Fototropik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Disamping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32°C (Nybakken, 1982). Menurut Veron (1995) terumbu karang merupakan endapan massif (deposit) padat Kalsium (CaCo3) yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (Calcareous algae) dan organisme -organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat (CaCo3). Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleractina ) merupakan penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu (reef -building corals). Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota Filum Coelenterata yang hanya mempunyai stadium polip. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi. Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik). Menurut Sumich (1992) dan Burke et al. (2002) sebagian besar spesies karang melakukan simbiosis dengan alga simbiotik yaitu zooxanthellae yang hidup di dalam jaringannya. Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae. Selanjutnya Sumich (1992) menjelaskan bahwa adanya proses fotosintesa oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut: Ca (HCO3) CaCO3 + H2CO3 H2O + CO2 Fotosintesa oleh algae yang bersimbiose membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposist cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae. Veron (1995) dan Wallace (1998) mengemukakan bahwa ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Suharsono (1999) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3°C di atas suhu normal.

[sunting] Indo-Pasifik

Regional Indo-Pasifik terbentang mulai dari Indonesia sampai ke Polinesia dan Australia lalu ke bagian barat ialah Samudera Pasifik sampai Afrika Timur. Regional ini merupakan bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan, dan moluska.

Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan daratan (land masses) terdapat tiga klasifikasi terumbu karang atau yang sampai sekarang masih secara luas dipergunakan.

[sunting] Terumbu atau Reef

Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup)di laut dangkal.

[sunting] Karang atau Coral

Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal yang akrab dengan kita adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas. Karang terdiri atas banyak polip seperti bambu terdiri atas banyak ruas tersebut.

[sunting] Karang terumbu

Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.

[sunting] Terumbu karang

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton

[sunting] Jenis-jenis terumbu karang

[sunting] 1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)

Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

[sunting] 2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)

Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.5­2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).

[sunting] 3. Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau­pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.

[sunting] 4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)

Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)

[sunting] Zonasi terumbu karang

[sunting] Windward reef (terumbu yang menghadap angin)

Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh reef slope atau lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di reef slope, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu atau reef front yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.

Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu (patch reef), di bagian atas reef front terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga atau algal ridge. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu (reef flat) yang sangat dangkal.

[sunting] Leeward reef (terumbu yang membelakangi angin)

Leeward merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.

TUTORIAL DESAIN GRAFIS

Selamat Menikmati Tutorial

+ Tips
Jika Mengalami Kesulitan Gunakan Search Engine Google Search

TUTORIAL PHOTOSHOP

DASAR + LAYOUT PHOTOSHOP + KETERANGAN
- Daftar Tutorial:
Page 2
Pemasangan dan Penggunaan Brush Photoshop Lengkap
Mengenal Resolusi Photoshop
Mengatur Ukuran Kanvas atau Lembar Kerja
Mengenal Style Pada Photoshop
Seleksi Objek pada Photoshop - Select - Deselect - Inverse
Penjelasan Tentang Plug-ins Photoshop

Page 1
Sekilas Penjelasan Tentang Layers Photoshop
Mengetahui Kinerja dan Keuntungan Clone Tool
Mengenal Custom Shape Tool
Membuat Gambar Dengan Pen Tool
Tutorial Membuat Gradien Background
Penjelasan dan Penguasaan Teknik Transform
Mempelajari dan Menguasai Teknik Croping
Cara Cepat Memisahkan Gambar Dari Background
Tutorial Memisahkan Gambar dari Background dengan Extract
Menggabungkan Gambar ke Dalam 1 Kanvas


TEKS EFEK
- Daftar Tutorial:

PAGE 2
Teks EFECT TEKS STONE

PAGE 1
Teks Terbakar - Fire Burning Text Effect
Teks Efek Creative Mistery
Teks Efek Fantasy Oceans Sky
Membuat Efek Api Pada Teks
3 d Teks Blue Arts
Text Effect 101 Dalmatians
Teks Puding Ubur - Ubur
Teks Berefek Bias Air
Tutorial Membuat Teks Efek Fill Gambar
Membuat Teks Reflektif


FOTO EFEK
- Daftar Tutorial:

PAGE 5
Foto Efek Mystery Horror
Foto Efek Refleksi Air
Efek POLAROIDS pada Foto
Bikin Foto Jerawatan Jadi Super Duper Mulus
Disappear Photo Effect

PAGE 4
Make Over Photo Without Plugin
Soft Effect dan Light Effect
Efek Foto Kobaran Api
Bikin Frame Photomu Sendiri
Efek PHOTO STRIP
Mengubah Gambar Menjadi Cartoon code:AIS
Photoshop Foto Efek Hantu
Photoshop : Membuat Kartun Efek Photoshop
Effect Blur Di Adobe Photoshop CS3
Memisahkan Foto dengan Quick Mask

PAGE 3
Membuat Chrome Frame Dengan Style Photoshop
Membuat SILHOUETTE
Membuat Efek Asap Pada Foto
Membuat Efek Foto 1000 Bayangan
Membuat Efek Foto Bias Pelangi
Membuat Gambar seperti teknik Manual Grayscale
Manipulasi Inject Tatoo Foto dengan Photoshop
Cantik Dalam Sekejap - Make Over Kamera HP
Foto Hitam Putih Menjadi Berwarna
Efek Foto Dual Colors Max

PAGE 2
Tutorial Foto Tua dan Efek Kuno
Menghilangkan Bagian Tertentu Wajah Anda
Gonta Ganti Warna Rambut Sesuka Hatimu
Efek Butiran - Butiran Air Membasahi Foto
Lighting Effect Pada Foto
Menghilangkan Jerawat Dengan Photoshop
Memanipulasi Gambar dengan LAYER MASK
Efek Rekaman Video Rusak pada Foto
Manipulasi Foto Menjadi Efek Kamera Infrared
Membuat Efek 3D kubus, lingkaran, tabung pada Foto

PAGE 1
Menambahkan Tulisan Berefek Komik Pada Foto
Membuat Foto Dengan Efek Biru Difuse Glow
Menghitamkan Warna Kulit
Merubah Foto Berwarna Menjadi Lukisan Kanvas Cat Air
Membuat Efek Venom
Membuat Efek Bayangan Lantai Pada Foto
Merubah Foto Berwarna Menjadi Sketsa Warna Pensil
Membuat Frame Photo Sederhana
Memutihkan Warna Kulit Pada Foto
Membuat Effect Sensor Pada Gambar


ALTERNATIF
- Daftar Tutorial:

Halaman 2
REALISTIC FIRE
Membuat Bola 3 Dimensi - Cristal Ball
Membuat Efek Sinar Petir
Membuat Efek Pusat Energi
Filter Noise dan Blur Memperhalus Gambar Hasil Scan
Kreatif Dengan Brush
Membuat Ukuran Kartu Nama
Membuat X-blue Ray Effect
Membuat Teksture Batu dengan Photoshop

Halaman 1
Membuat Efek Relief
Tutorial Membuat Corak ARMY
Bikin Banner Dengan Effect Starburst
Desain Logo Cantik Dengan STYLE
Membuat Kembang Api "LOVE"
Pembuatan Iklan Lucu
Membuat Monster Bawah Laut
Membuat Bola Cristal
Membuat Pengumuman Dilarang Merokok
Membuat dan Memanipulasi Air


TUTORIAL CORELDRAW

KATEGORI: CORELDRAW DASAR + LAYOUT CORELDRAW X3 + KETERANGAN
- Daftar Tutorial:
PAGE 2
Permasalahan Pencetakan / Dalam Mencetak

PAGE 1
Lens Effect Pada CorelDRAW
Export File Corel
Penjelasan Shortcut Keys CORELDRAW Lengkap
MenSCAN Gambar dengan CORELDRAW
Tips dan Trik Mengcopy Object dengan Cepat
Membuat Layout Halaman Majalah Efek Envelope
Mudahnya Tulisan 3d dengan Coreldraw
Efek Curl Page yang Mengesankan
Menguasai Teknik Transparansi Gambar
Menguasai Teknik Penggabungan dan Shaping


KATEGORI: CORELDRAW DESAIN LOGO
- Daftar Tutorial:

PAGE 2
Membuat Logo Carrefour
Membuat Logo TELKOMSEL
LOGO INDOSAT Dengan CorelDRAW
LOGO STARBUCKS
MEMBUAT LOGO IM3 Code: Amin

PAGE 1
MEMBUAT LOGO TELKOM Code: Amin
Desain Logo Wordpress Code: Amin
Logo Windows Vista Code: Arofat
Logo Sony Ericsson - code:Ervyn
Membuat LOGO UBUNTU
Membuat Kop Surat Perusahaan Dengan Corel Draw 12
Membuat Disain Logo WINDOWS MEDIA PLAYER
Membuat Logo FLASHDISTRO
Membuat Logo AMD Athlon
Membuat Logo SCTV


KATEGORI: CORELDRAW BEBAS
- Daftar Tutorial:

PAGE 2
Membuat efek MOZAIK
Membuat Undangan Simple dan Indah

PAGE 1
MEMBUAT DESAIN STEMPEL
Effect Stample CorelDRAW
Font PLAY - Bermain Dengan Font
Membuat Tulisan Efek CLIP
Corel : Membuat Peta 3 D
Invisible Text With Drop Shadow
Membuat USB Flash Disk dengan CorelDRAW
Mengubah Image Bitmaps Menjadi Vektor
Desain Kartu Nama Simpel nan Keren
Membuat Bola Nine Ball


TUTORIAL ILLUSTRATOR

KATEGORI: ILLUSTRATOR VECTOR
- Daftar Tutorial:
Ilustrasi Fashion Busana Wanita
Membuat Perangko Gratis dengan Illustrator
Membuat Robot dari Gelembung - Gelembung Lingkaran
Efek Teks 3 D illustrator
Tracing Foto Luna Maya


TUTORIAL FLASH ANIMATION

KATEGORI: MACROMEDIA FLASH
- Daftar Tutorial:
Animasi Shine - Mobil Mengkilap Bercahaya
Memasukkan dan Menyesuaikan Gambar dengan Stage
Membuat Animasi Sederhana dengan Permainan Keyframe
Dasar - Dasar Macromedia Flash


TUTORIAL WEB DESAIN

KATEGORI: DREAMWEAVER
- Daftar Tutorial:
Memasukkan Video Youtube ke Website
Memasukkan Animasi Flash Ke Dalam Website
Pengenalan Dreamweaver dan Layout

KATEGORI: MACROMEDIA FIREWORKS
- Daftar Tutorial:
Pengenalan Macromedia Fireworks


TUTORIAL DESKTOP PUBLISHING

KATEGORI: MACROMEDIA FREEHAND
- Daftar Tutorial:
File Freehand Tidak Minta Font
Pentingnya Mengunci Object Pada Freehand

KATEGORI: ADOBE InDesign
Pengenalan Adobe InDesign dan Layout


MICROSOFT GRAFIS

KATEGORI: MS. PAINT
- Daftar Tutorial:
Membuat Mangekyou Sharingan Milik Kakashi
Membuat Bola Mata Mangekyou Sharingan Milik Uciha Itachi
Membuat Boneka di MS Paint
Membuat Bola Mata Sharingan (Naruto) di Paint
Menggambar Kartun Anime / Manga di Paint
Membuka dan Mengedit Gambar dengan PAINT
Dasar - Dasar dan Layout Paint


KATEGORI: VISIO
- Daftar Tutorial:
Dasar - Dasar dan Layout Visio


3D ANIMASI dan ARSITEKTUR

KATEGORI: 3d Max Studio
- Daftar Tutorial:

PAGE 3
Ada Salju Di ilmugrafis
MODELING BANGKU KECIL
WARNA - WARNI Lampu NEON
ilmuGRAFIS SUPER SOCCER
Efek Volume Light 3D - Sorot Lampu
Membuat Neon Sign

PAGE 2
Membuat Pensil 3 Dimensi
Manfaat Yang Bisa Dibuat Dengan 3D
Bikin Cahaya 3D Lampu-mu Sendiri
Bikin Rumput 3 Dimensi
Membuat Kabut Pada Scene
Boolean VS Proboolean
Membuat Ketebalan Suatu Permukaan yang Mengikuti Arah Garis
Membuat Material Berpendar
Meshsmooth VS Turbosmooth
Menggabungkan Object 3D dengan Foto

PAGE 1
Membuat Background di 3dsMAX
Menghapus Object - Object yang Teranimasi
Membuat Pencahayaan Global Illumination (GI)
Membuat dan Menambahkan Background pada Viewport
Membuat Pigura dan Bingkai Lukisan atau Foto
Membuat Sendiri Background Awan Dengan 3DS MAX
Mengoptimalkan Jumlah Titik Pada Object 3 Dimensi
Keunggulan dan Feature 3D Animation Dengan 3ds Max
Melakukan Pembatalan Perubahan Arah Pandang Viewport
Merubah Tampilan Layout 3d MAX


KATEGORI: MAYA Unlimited
- Daftar Tutorial:
Penjelasan Tentang MAYA Unlimited

KATEGORI: AUTOCAD
- Daftar Tutorial:
Cara Mengambil Sudut Pandang 3D
Langkah Render pada Obyek Gambar 3 Dimensi
Cara Memberi Background Pada Obyek Gambar 3 Dimensi AutoCAD
Standar Ukuran Kertas dan Skala Internasional AutoCAD


FREEWARE DESIGN

KATEGORI: GIMP
- Daftar Tutorial:
Membuat Foto Efek Impian Blur Impact
GIMP Alternatif Pengganti Photoshop

Rumput Laut (Eucheuma cottonii)2

1.Aspek biologis rumput laut

a.Jenis atau spesies rumput laut

Klasifikasi Eucheuma cottonii

Rumput laut spesies Eucheuma cottonii mempunyai klasifikasi sebagai berikut :

Divisi: Rhodophyta

Kelas: Rhodophyceae

Sub kelas: Florideophycidae

Bangsa: Gigantinales

Suku: Solieraceae

Marga: Eucheuma

Jenis: Eucheuma Cottonii

Eucheuma alvarezii (Doty).

Kappaphycus alvarezii (Doty).

Spesies Kappaphycus alvarezii (Doty), merupakan nama yang telah diperbaharui dari Eucheuma alvarezii (Doty). Dinamakan demikian karena kandungan akhirnya adalah kappa karaginan, sedangkan Eucheuma cottonii adalah nama komersial dari Kappapycus alvarezii (Doty, 1986).

Morfologi Eucheuma cottonii

Dari segi morfologi rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang, dan daun. Bentuk tersebut adalah thalus belaka. Bentuk thalus belaka. Bentuk thalus rumput laut bermacam-macam, antara lain bulat, pipih, gepeng dan bulat seperti kantong, rambut dan sebagainya. Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya alga ini ada yang tersusun uniseluler (satu sel) atau multiseluler (banyak sel). Pada makro alga, jenis percabangan antara lain adalah pectinate (berderet searah pada thalus utama), pinnate (bercabag dua-dua sepanjang thalus utama secara berselang selang), ferticilate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama) dan ada juga yang sederhana, tidak bercabang. Sifat substansi thalus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras mengandung atau diliputi zat kapur (calcerous), dan sebagainya. Untuk marga eucheuma thalusnya adalah bulat silinder atau gepeng, bercabang berselang tidak teratur, di atau tikotomous (DKP Banten, 2007).

Fase hidup rumput laut

·Skema perkembangbiakan rumput laut secara generatif

Rumput laut




Spora (n)Spora (n)

Tanaman Jantan (n)Tanaman Betina (n)

Spermatium (n)sel telur (n)

+

Zigote (2n)

Toleransi fisiologis rumput laut

·Suhu

Dalam budidaya suhu air laut atau temperatur air laut perlu diperhatikan, walaupun pengaruhnya tidak terlalu besar bagi rumput laut, temperatur yang baik bagi rumput laut Eucheuma cottonii ini adalah sekitar 23-280C dengan perbedaan suhu antara malam dan siang hari relatif kecil. Begitu pula didalam pemanenan rumput laut ini sebaiknya dilakukan pemanenan pada pagi hari atau sore hari karena akan berpengaruh pada kualitas bibit rumput laut itu sendiri.

·Ombak dan arus

Ombak dan arus dapat berpengaruh dalam kegiatan budidaya baik pengaruh baik maupun pengaruh buruk. Pengaruh baiknya yaitu rumput laut memerlukan ombak untuk membantu mempercepat masuknya zat-zat makanan kedalam tanaman dan pengaruh buruknya yaitu jika ombak terlalu besar maka akan merusak rumput laut tersebut, untuk mempermudah dalam pemanenan dianjurkan agar dilakukan ketika pasang terendah/ ketika ombak tidak terlalu besar.

·Organisme pengganggu

Lokasi budidaya sebaiknya dilakukan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu seperti bulu babi, ikan baronang, penyu, teritip dan sebagainya karena organisme tersebut dapat bersifat hama bagi budidaya rumput laut dan dapat mempengaruhi kualitas bibit dan rumput laut itu sendiri.

·Jalur pelayaran

Budidaya rumput laut ini sebaiknya tidak dilakukan pada jalur pelayaran karena akan mengganggu aktifitas pelayaran dan dapat menimbulkan konflik dengan kepentingan lain serta akan menghambat dalam pendistribusian rumput laut khususnya jalur laut itu sendiri.

·Limbah industri

Dalam memilih lokasi budidaya sebaiknya agak jauh dari sektor industri karena dikhawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan rumput laut bahkan dapat menjadi racun bagi rumput laut itu sendiri. Tanda tanda kerusakan rumput laut terjadi pada tanaman ketika berusia satu bulan setelah masa tanam dan juga dapat berdampak pada kualitas rumput laut tersebut, rumput laut akan berwarna putih pucat kemudian rontok dengan sendirinya.

2.Tekhnik Pengepakan dan Pengangkutan bibit Rumput Laut

·Rumput lautyang dipanen dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukuran.

·Rumput laut dibersihkan dengan menggunakan air laut yang bersih, yang rusak dan kotoran (pasir) dipisahkan sebelum pengepakan.

·Pengepakan dilakukan dengan menggunakan karung, karung yang digunakan sebaiknya diberi lubang agar tidak terjadi lembab yang akan menyebabkan rumput laut itu rusak.

·Pengepakan dan pengangkutan dilakukan dengan hati-hati agar rumput laut tidak rusak.

·Pengangkutan rumput laut dari lokasi budidaya dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan, jauhkan dari benda-benda yang tajam.

·Apabila harus ditumpuk, penumpukan rumput laut tidak lebih dari 3 tumpuk hal ini bertujuan agar rumput laut mempunyai ruang gerak udara, hal ini juga dilakukan ketika berada pada alat transportasi karena selain akan berlebihan muatan rumput laut pun akan rusak.

·Dilakukan dengan menggunakan kendaraan yang terbuka seperti truck, pickup dsb.

·Jika perjalannya jauh lebih dari 10 jam rumput laut disiram dengan air laut agar rumput laut tetap lembab/ tidak kering.

·Ketika dalam pengangkutan sebaiknya ditutup dengan menggunakan terpal atau sejenis lainnya agar terhindar kontak langsung dengan sinar matahari, air tawar, air hujan, embun, minyak dan kotoran lainnya maka akan berakibat rusaknya rumput laut.

·Ketika sampai pada lokasi budidaya sebaiknya rumput laut tersebut dikeluarkan dari karung dan disiram air laut atau dimasukkan kedalam jaring kemudian direndam dalam laut.

·Sebaiknya segeralah untuk ditanam pada lokasi budidaya.

3.Kelebihan dan kelemahan dalam proses pengangkutan

a.Keuntungan :

üAngkutan Darat : Pengangkutan dapat dilakukan dalam jumlah besar, biayanya lebih murah, dapat dilakukan kapan saja

üAngkutan Udara : Jaraknya jauh, cepat dan aman

üAngkutan Laut : mudah, murah dan dapat dalam jumlah besar, jaraknya jauh

b.Kerugian:

üAngkutan Darat : Mudah mengalami kerusakan, jaraknya tempuh dekat

üAngkutan udara : jumlahnya pengirimannya kecil dan biayanya besar dan harus disesuaikan jadwal dan tujuan penerbangan, administrasinya panjang

üAngkutan laut :perahu khusus, waktunya lama, mudah mengalami kerusakan

c.Kendala :

üRumput laut tidak dapat bertahan lama dalam perjalanan

üKondisi suhu pengangkutan tidak stabil

üKerusakan bahkan kematian

üJumlah yang kecil

4.Kegiatan fisiologis dan lingkungan dalam pengangkutan rumput laut

·Diusahakan pemanenan Eucheuma cottonii pada waktu sore hari hingga malam hari hal ini bertujuan untuk menghindari panas cahaya matahari.

·Usahakan ketika waktu pemanenan tidak dalam keadaan hujan karena akan menurunkan kualitas rumput laut tersebut.

·Pemberian es batu bertujuan untuk menurunkan suhu ketika berada di dalam boxstryfoam (jika menggunakan)

·Usahakan setelah dipanen jangan terlalu lama disimpan karena rumput laut akan busuk/mengering.

·Rumput laut yang sudah dipanen dibersihkan sebelum dilakukan pengepakan ini bertujuan untuk menghilangkan lumut/teritip dan rumput laut yang rusak pada rumput laut Eucheuma cottonii.

·Diusahakan pengepakan pada bibit rumput laut jangan terlalu padat karena akan merusak kualitas rumput laut tersebut.

·Sebaiknya bibit tetap lembab atau basah agar kandungan air pada rumput laut tersebut tetap terjaga.

·Jika menggunakan karung sebaiknya karung tersebut diberi lubang udara agar sirkulasi udara lancar dan rumput laut tersebut tidak busuk

5.Saran dan rekomendasi

a.Bibit rumput laut di daerah ini adalah jenis bibit rumput laut yang berasal dari maumere.

b.Bibit ini sebagai bibit percontohan yang akan didistribusikan di daerah Bali, Sulawesi, NTB, NTT dan sekitarnya.

c.Bibit tersebut adalah bibit persilangan antara bibit tambalang dengan cottonii lokal yang kandungan karagenan tinggi.

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies